Berhalangan Itikaf, Bolehkah Diqadha pada Bulan Lain?

Tuntunan  

Salam sahabat! Itikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan niat untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Itikaf hukumnya sunah dan sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, ter utama pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Meski demikian, adakalanya kita terhalang untuk melaksanakan sunah tersebut. Lantas, bisakah kita mengganti itikaf tersebut pada bulan lainnya? Dikutip dari Pusat Data Republika, Ustaz Bachtiar Natsir menjelaskan sebuah hadits yang bersumber dari Aisyah Ra. Diriwayatkan bahwa Nabi SAW selalu beritikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sampai Allah SWT mewafatkannya. Kemudian istri-istri beliau beritikaf setelahnya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagai ibadah sunnah, maka jika telah berniat untuk itikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, namun terhalang sehingga kita tidak sempat melakukannya atau sudah memulai namun terhalang sehingga kita tidak dapat menyelesaikannya hingga akhir Ramadhan, ma ka menurut jumhur ulama dari kalangan mazhab Syafi’i, mazhab Hanbali, dan salah satu pendapat dalam mazhab Hanafi tidak diwajibkan untuk mengqadhanya, tetapi disunnahkan.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Hal itu berdasarkan hadits Nabi SAW.Dari Aisyah ra. ia berkata, “Rasulullah SAW se lalu beriktikaf tiap bulan Ramadhan, apabila beliau selesai dari shalat subuh, maka beliau ma suk ke tempat itikaf beliau.” Berkata pe rawi, “Kemudian Aisyah meminta izin kepada be liau untuk beriktikaf, Rasulullah SAW meng izin kan nya. Kemudian Aisyah membuat kemah di tem pat tersebut. Hafshah mendengarnya, kemudian dia pun membuat kemah. Zainab juga mende ngarnya, dia pun membuat kemah. Ketika Ra sulullah SAW selesai dari sholat su buh, beliau melihat 4 kemah, kemudian ber ka ta, “Apa ini?” Beliau dikabarkan apa yang te ngah terjadi, lalu berkata, “Apa yang membuat mereka melaku kan hal ini? Lepaskanlah hing ga aku tidak melihatnya.” Kemudian kemah-kemah itu dilepas dan beliau tidak beritikaf pada bulan Ramadhan tahun itu sehingga beliau beritikaf pada 10 hari terakhir bulan Syawal.” (HR. Bukhari).

Riwayat Muslim juga menyebutkan, “Beliau beritikaf pada 10 hari awal bulan Syawal.”Dalam hadits ini Nabi SAW tidak memerintahkan kepada para istrinya untuk mengqadha iktikaf yang tidak jadi mereka lakukan. Tidak ada pula riwayat yang menjelaskan bahwa istri-istri Nabi tesebut mengqadha iktikaf mereka.Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa Nabi SAW mengqadha itikafnya pada bulan Syawal. Hal itu menunjukkan bahwa disunahkan untuk mengqadha itikaf yang tidak sempat dilakukan pada bulan Ramadhan.Dalam mengqadha itikaf, Nabi SAW mencontohkan dengan mengqadhanya pada bulan Syawal atau di bulan Ramadhan tahun depannya sebagaimana dijelaskan dalam suatu hadits.

Ubay bin Ka’ab meriwayatkan bahwa Ra sulullah SAW selalu beritikaf pada sepuluh hari ter akhir bulan Ramadhan. Pada suatu ta hun beliau sedang dalam perjalanan sehingga beliau tidak beriktikaf. Maka, pada tahun de panya beliau beriktikaf selama 20 hari. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, al-Nasa`i, Ibnu Khu zai mah, al-Hakim, dan al-Baihaqi).

Syarat dan Rukun Itikaf, Nomor 3 Suci dari Junub

Itikaf di Masjid At-Taawun Puncak Bikin Ibadah Berasa Liburan

Cara Mudah Daftar Itikaf di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Kamaruddin Djiwa, Guru SD yang Didik 16 Anaknya Jadi Hafiz Alquran

Merenungi Nuzulul Quran, Saat Mayoritas Muslim Indonesia Buta Huruf Alquran

Punya 16 Anak Hafiz Quran, Begini Kata Kamaruddin Djiwa Soal Tingginya Buta Huruf Alquran

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Pecinta Nasi Uduk

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image