Bersahabat dengan 'Muslim yang Komunis', Hamka Jelaskan Soal Dasar Kebudayaan

Sirah  

Haji Abdul Karim Amirullah (Hamka) merupakan ulama pujangga yang hidup pada masa perjuangan. Dia pun aktif di dunia penerbitan dengan menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Pedoman Masyarakat yang berkantor di Medan, Sumatra Utara. Sebagai seorang wartawan, Hamka bersinggungan dengan banyak kalangan. Dia tak membatasi pergaulannya meski dikenal sebagai angku haji muda yang aktif di Muhammadiyah.

Akmal Nasery Basral dalam Buya Hamka Merangkai Makna di Mihrab Ulama mengungkapkan, Hamka juga bersahabat dengan seorang pemuda komunis bernama Warman. Pemuda ini dikisahkan mengkritik salah satu karya fenomenal Hamka, Merantau ke Deli. Dia keberatan karena karyanya itu kerap menguras air mata pembaca. Warman menginginkan agar karya-karya Hamka mendorong para pemuda untuk menjadi pengikut komunis dan mengangkat senjata melawan Belanda.

Dikritik oleh Warman, Hamka tidak pernah tersinggung. Dia maklum karena Warman adalah kawan berhajinya 12 tahun silam. Waktu itu, dia berusia 19 tahun sedangkan Warman tiga tahun lebih tua. Mereka berangkat dari Pelabuhan Belawan, berkenalan di kapal. Mereka cepat akrab. Sepulang berhaji, Hamka cukup sering berkomunikasi dengan Warman. Dia tahu jika sahabatnya itu mendalami ideologi komunisme. Meski demikian, dia menolak jika disebut ateis. Dia mengaku sebagai Muslim yang komunis.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Dia beberapa kali membujuk Hamka untuk menjadi pendukung komunisme meski selalu ditolak oleh sang Angku Haji. Sebaliknya, Hamka pun mengajak Warman kembali kepada ajaran Islam. Warman ingin agar Hamka bersuara lebih keras kepada pemerintah kolonial. Dia menginginkan temannya yang memilik kekuatan tempur lewat pena bisa lebih keras mengkritik para tuan tanah yang berlaku zalim kepada kuli-kuli pribumi.

Untuk kritik Warman, Hamka mempunyai jawaban jitu. Dia berkata tegas sedang memperkuat dasar kebudayaan negerinya tercinta. Jika dibandingkan dengan Mesir, Hamka merasa peradaban negerinya tertinggal hingga 50 tahun. Mesir sudah mengonsumsi karya-karya unggul seperti Goethe, Maupassant, Gorky, Anatole France, Chekhov, Baudalare, hingga Hemingway yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Tak sekadar menerjemahkannya, karya-karya itu diolah sesuai dengan kekhasan masyarakat setempat. Seperti apa yang dilakukan bangsa Arab terhadap karya-karya Yunani. Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al Farabi mengunyah karya-karya Yunani klasik sehingga cocok dengan zamannya.

Jeritan Jiwa Kartini Usai Baca Tafsir Alquran

Mau Diangkat Nabi oleh Komunitas Sunda, Bung Karno Nabi Terakhir

Siapa Maharaja Sriwijaya yang Berkirim Surat kepada Umar bin Abdul Aziz?

Itikaf di Masjid Attaawun Puncak, Bikin Ibadah Berasa Liburan

Mbah Sholeh Darat, Kartini dan Kitab Tafsir Faid Al Rahman

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Pecinta Nasi Uduk

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image