Mbah Shaleh Darat, Kartini dan Kitab Tafsir Faid Al Rahman

Literasi  

Salam Sahabat! RA Kartini diketahui sempat gundah gulana akibat Alquran yang dipelajarinya tidak dapat diketahui maknanya.

Guru yang pertama kali membimbing Kartini adalah KH Shaleh Darat. Pengamat sejarah dari UIN Sunan Kalijaga Dr Kasori Mujahid menjelaskan, persinggungan antara Kiai Shaleh Darat dengan Kartini menjadi pemicu dari lahirnya kitab tafsir Alquran Jawa pertama di Nusantara, yakni Kitab Faid Al Rahman. "Itu tidak lepas dari peran seorang Kartini yang memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang Islam," ujar dia kepada tim redaksi Maktabu Republika belum lama ini.

Shaleh Darat merupakan seorang kiai asal Semarang yang juga merupakan guru dari KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. KH Soleh Darat memiliki nama lengkap Syekh Haji Muhammad Shalih ibn Umar as-Samarani. Dia adalah putra Kiai Umar, salah seorang pejuang dalam Perang Jawa (1825-1830).

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Shaleh kecil belajar agama kepada ayahnya sendiri. Dia belajar surat-surat pendek, ilmu tajwid hingga fiqih ibadah sederhana seperti wudhu dan sholat. Shaleh pun melanjutkan pelajaran agama di beberapa pesantren. Setelah itu, Shaleh berangkat ke Kota suci Makkah untuk belajar kepada beberapa ulama dan kiai hingga mendapat ijazah.

Beberapa ulama yang menjadi gurunya yakni Sayyid Muhammad ibn Zaini Dahlan (mufti mazhab Syafii di Makkah), Syekh Muhammad ibn Sulaiman (seorang ulama di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi), Sayyid Muhammad Salih az-Zawawi al Makki (pengajar di Masjidil Haram). Kiai Shaleh Darat kemudian pulang ke Tanah Air setelah ayahnya wafat di Makkah. Di jawa, dia belajar lagi kepada beberapa ulama dari berbagia pesantren. Kiai Soleh pin menikah dan mendirikan pesantren yang lambat laut terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darat.

M Masrur dalam Kyai Soleh Darat, Tafsir Faid Al-Rahman dan RA Kartini menjelaskan, RA Kartini menjadi salah satu tokoh yang belajar kepada Kiai Shaleh Darat. Catatan cucu Kiai Shaleh Darat menjelaskan, Kartini punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari agama Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebua ayat Alquran. saat berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Kiai Shaleh. Saat itu, Kiai Shaleh sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. Kartini amat tertarik dengan model pengajian dari Romo Kiai.

Dalam sebuah pertemuan, Kartini pun meminta agar Alquran diterjemahkan karena tidak ada gunanya membaca kitab suci tanpa mengetahui artinya. Hanya saja, penjajah Belanda memang punya kebijakan resmi melarang orang menerjemahkan Alquran. Mbah Shaleh melanggar aturan ini. Dia menerjemahkan Alquran dengan ditulis dalam huruf arab gundul (pegon) sehingga tak dicurigai penjajah. Kitab tafsir dan terjemahan Alquran ini diberi nama Kitab Faid ar-Rahman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab.

Kitab ini dihadiahkan kepada RA Kartini saat dia menikah dengan RM Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. Saat itu, RA Kartini amat menyukai hadiah itu. Dia bahkan mengatakan, “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya. Sebab Romo kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Jeritan Jiwa Kartini Usai Baca Tafsir Alquran

Mau Diangkat Nabi oleh Komunitas Sunda, Bung Karno Nabi Terakhir

Siapa Maharaja Sriwijaya yang Berkirim Surat kepada Umar bin Abdul Aziz?

Itikaf di Masjid Attaawun Puncak, Bikin Ibadah Berasa Liburan

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Pecinta Nasi Uduk

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image