Mengenang Koh Steven, Tujuh Jahitan Akibat Masuk Islam

News  

Steven memutuskan untuk masuk Islam bukan karena hal yang spiritual. Dia menyaksikan orang Islam yang tertib saat beribadah. Saat dipanggil adzan, kaum Muslim masuk ke masjid. Setelah melaksanakan sholat, mereka membubarkan diri. Semua itu disaksikannya saat masih bekerja di Gereja Katedral yang letaknya berdekatan dengan Masjid Istiqlal. "Saya masuk Islam bukan karena hal yang spirituil,"ujar dia dalam salah satu ceramahnya yang diunggah di laman Youtube.

Steven bersyahadat saat mengantar temannya yang bekerja di koperasi Kantor Pos Besar PT Pos Indonesia, Jakarta. Syahdan, temannya tersebut meminta Steven untuk mengantarnya ke Pandeglang karena hendak menikahkan putrinya. Sang kawan meminjam mobil gereja. Steven yang sudah mengenal temannya itu bersedia mengantarnya.

Saat melewati Baros, Serang, Banten, mobil Steven berhenti di sebuah tempat karena rombongannya tersebut hendak sholat. Setelah itu, Steven meminta untuk diajarkan sholat. Pada awalnya, permintaan Steven ditolak mengingat yang bersangkutan belum masuk Islam. Dia lantas diminta untuk diajari cara menjadi Muslim dan bersyahadat. Sesampainya di Jakarta, Steven pun belajar sholat dengan sebuah buku panduan sholat. Steven mengaku masih membaptis jemaat gereja setelah baru menjadi mualaf. Enam bulan kemudian, Steven pun memutuskan untuk berhenti dari gereja.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Keislamannya ini, kata dia, baru diketahui oleh kedua orang tuanya setelah ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Kabar mengenai keislamannya ini diketahui orang tuanya dari para rekan bisnis sang ayah.

“Karena mungkin pada waktu itu, papa saya sedang mengerjakan proyek pembangunan resort di wilayah Muara Karang dan Pluit, makanya papa punya banyak kenalan dan teman. Dan, mungkin orang-orang itu sering melihat saya datang ke masjid dan mengenakan peci, makanya dilaporkan ke papa,” kenangnya seperti dilansir dari Republika Edisi 7 Juli 2009. Ayahnya pun memutuskan untuk mengirim orang untuk memata-matai setiap aktivitas Indra sehari-hari. Setelah ada bukti nyata, ia kemudian dipanggil dan disidang oleh ayahnya. Saya beri penjelasan kepada beliau bahwa Islam itu bagi saya adalah pegangan hidup.

Di hadapan ayahnya, Steven mengatakan bahwa selama menjalani pendidikan calon bruder, dirinya mendapatkan kenyataan bahwa pastur yang selama ini ia hormati ternyata melakukan perbuatan asusila terhadap para suster.“Ibaratnya saya pegangan ke sebuah pohon yang ranting, ranting daunnya pada patah, dan saya rasa pohon itu sudah mau tumbang kalau diterpa angin. Sampai akhirnya, saya ketemu dengan sebatang bambu kecil, yang tidak akan patah meski diterpa angin.”

Video Ceramah Koh Steven

Seakan tidak terima dengan penjelasan sang anak, ayahnya pun menampar Steven hingga kepalanya terbentur ke kaca. Beruntung saat kejadian tersebut sang ibu langsung membawa Indra ke Rumah Sakit Atmajaya. Sebagai akibatnya, ia mendapatkan tujuh jahitan di bagian dahinya. Kendati begitu, ibunya tetap tidak bisa menerima keputusan putra pertamanya tersebut.

Tidak hanya mendapatkan tujuh jahitan, ayahnya kemudian mengusir Steven setelah dipaksa harus menandatangani surat pernyataan di hadapan notaris mengenai pelepasan haknya seba gai salah satu pewaris dalam keluarga. “Saya tidak boleh menerima semua fasilitas keluarga yang menjadi hak saya,”ujarnya.

Meski hidup dengan penuh cobaan, Steven berkukuh masih ada Allah SWT yang menyayanginya dan membukakan pintu rezeki untuknya. Setelah diusir, Steven pun hijrah ke Cilegon untuk menjadi kuli panggul. “Waktu itu digaji Rp 50 ribu. Potong mandor jadi Rp 35 ribu,”ujar dia.

Dia bahkan mengaku menjadi tukang cuci piring di warteg dan warung nasi padang untuk mencari makanan gratis. Setelah berjalan beberapa lama, Steven lantas ditawari bekerja di sebuah perusahaan oleh seorang ekspatriat karena Steven memiliki kemampuan bahasa Inggris mumpuni. Disana, Steven mengembangkan diri. Dia lantas mengajukan proposal pengajuan beasiswa yang ia sampaikan ke Universitas Bina Nusantara (Binus) disetujui. Di Binus juga, ia mempunyai waktu luang dan kesempatan untuk menyampaikan syiar Islam, baik melalui forumforum pengajian maupun internet.

Mengenang Koh Steven, Belajar Sholat Saat Masih Bekerja di Katedral

Rekam Jejak Penghinaan kepada Rasulullah pada Zaman Kemerdekaan RI

Apa Sebenarnya Makna Mata Satu yang Menjadi Simbol Dajjal?

Benarkah Dajjal akan Keluar dari Iran?

Mengapa Madinah tak akan Bisa Dimasuki Dajjal?

Berita Terkait

Image

Mengenang Koh Steven, Belajar Sholat Saat Bekerja di Katedral

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Pecinta Nasi Uduk

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image