Tabiin Panggil Nama Khalifah tanpa Gelar Amirul Mukminin, Begini Alasannya

Sirah  

Salam Sahabat! Ulama pada masa sahabat dan tabiin menjaga jarak dengan penguasa. Mereka bahkan memberi nasihat kepada khalifah, amir, gubernur, dengan berani dan pedas. Salah satunya ada pada kisah Hisyam bin Abdul Malik, seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berkuasa pada pertengahan abad ke-8. Pada satu ketika, Hisyam memasuki Makkah. Dia pun ingin bertemu dengan salah satu sahabat Rasulullah SAW. Namun, penduduk Makkah menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, mereka sudah tiada. Semunya telah meninggal dunia.”

Hisyam lantas kembali berkata, “ Panggilkan seorang tabi’in!” Lalu dipanggillah Thawus Al-Yamani. Saat Thawus maju ke hadapan Khalifah Hisyam, dia melepaskan alas kakinya dengan tepi permadani. Alih-alih memanggilnya dengan sebutan Amirul Mukminin, Thawus hanya berkata, “Assalamu’alaika wahai Hisyam!”

Thawus juga enggan memanggil Hisyam dengan nama kunyah-nya (nama nisbah keluarga yang diawali dengan abu dan ibn). Setelah duduk di hadapa Hisyam,Thawus bertanya, “ Apa kabarmu wahai Hisyam?”

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Mendengar sapaan tersebut, Hisyam sangat marah hingga ingin membunuhnya. Seseorang berkata kepada khalifah,”Anda berada di tanah suci milik Allah dan Rasul-Nya. Anda dilarang membunuh!” Setelah kemarahannya reda, Hisyam berkata kepada Thawus, “Hai Thawus, apa yang mendorongmu berbuat demikian?” Thawus menjawab, “Apa yang aku lakukan?” Hisyam bertambah marah dan murka. Dia berkata, “Engkau membuka kedua alas kakimu dengan tepi permadaniku. Engkau tidak mencium tanganku. Engkau tidak menyapaku dengan panggilan Amirul Mukmin. Engkau tidak menyebutkan nama kunyahku. Engkau duduk di hadapanku tanpa seizinku. Engkau berkata, ‘Apa kabarmu, hai Hisyam?”

Thawus menjawab, “Aku membuka alas kakiku dengan tepi permadanimu. Begitulah aku melakukan shalat lima kali sehari dengan menghadap Allah Yang Mahaperkasa. Yang tidak menyiksaku dan tidak pula murka kepadaku. Aku tidak mencium tanganmu, karena aku mendengar Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib Kw berkata, “Seseorang tidak boleh mencium tangan orang lain kecuali istrinya karena syahwat atau anaknya karena kasih sayang. Aku tidak menyapamu dengan panggilan ‘Amirul Mukminin’, karena tidak semua menyukai pemerintahanmu. Sungguh aku tidak suka berbohong. Aku juga tidak menyebut kunyah-mu. Sebab, Allh Swt memanggil nabi-nabi-Nya dengan Ya Dawud! Ya Yahya! Ya ‘Isa!’ tetapi Dia menyebut kunyah musuhnya seperti firman-Nya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab” (QS Abu Lahab: 1).

“Aku juga tidak perlu izin untuk duduk dihadapanmu. Sebab, aku mendengar Amirul Mukminin ‘Ali Kw berkata, “Apabila engkau ingin melihat penghuni neraka, lihatlah orang duduk yang dikelilingi oleh orang-orang yang berdiri.”

Hisyam pun meminta nasihat kepada Thawus. Dia lantas menjawab,” Aku mendengar Amirul Mukminin ‘Ali Kw berkata, “Sesungguhnya di dalam Neraka Jahanam terdapat banyak ular seperti bukit dan kalajengking seperti bagal yang menggigit setiap pemimpin yang tidak berlaku adil kepada rakyatnya.”

Baca: Tujuh Syarat Berwudhu Saat Mengenakan Sepatu

Baca juga: Mengusap Sepatu Saat Berwudhu, Begini Contoh dari Rasulullah

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Pecinta Nasi Uduk

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image